Tampilkan postingan dengan label Info Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2009

THE SHINJUKU INCIDENT

Buat Movie mania, khususnya yang doyan sangat ama Film gangster or anything Bout Yakuza, Aq merekomendasikan "The Shinjuku Incident".
Kemaren sore Aq menyempatkan seorang diri tuk menikmati Sajian Film garapan Mr.Derek Yee Tung-Sing ini. Lumayan lama durasinya, sekitar 120 menit...yah sebaiknya nontonnya bersama Pasangan agar Dinginnya AC Studio21 tidak terlalu terasa,lol.


Berlatar tahun 1990-an di Tokyo, berkisah seputar imigran gelap China di Jepang yang berusaha menyambung hidupnya dengan bekerja serabutan.
Seorang Mekanik Traktor China, Steelhead(Jackie Chan)berusaha sebisa mungkin agar dapat menyeberang ke Jepang demi mencari Kekasih hatinya Xiu Xiu (Xu Jinglei) yang telah lebih dulu meninggalkan Cina.

Ternyata tidak gampang untuk dapat bertahan hidup di Jepang, Steelhead rela untuk bekerja sebagai seorang pencuci piring di restoran. Lama kelamaan dia mulai beradaptasi dengan lingkungannya, terlebih setelah dia bertemu kawan lamanya Jie (Daniel Wu)di distrik padat penduduk, Shinjuku. Steelhead tergerak untuk mengajak sesama imigran gelap asal Cina untuk saling bahu-membahu dalam suka dan duka. Mereka mencari duit dengan cara Mengutil Produk2 mahal yang ada di Department Store, mengutak-atik salah satu mesin judi sehingga selalu jackpot apabila digunakan.

Steelhead dan Genknya berhasil meraup penghasilan yang cukup besar dari pekerjaan kotornya itu, namun hal itu tidak berlangsung lama karena pemilik Kasino mengetahui indikasi tersebut. Hal ini berakibat Fatal, salah seorang anggota Genk Steelhead mesti merelakan kehilangan salah satu tangannya, Gossshh.

Steelhead tentu saja tidak tinggal diam dengan kejadian tersebut, percuma dunk jadi Ketua Genk kalo tidak bisa take a revenge. Malam itu juga Steelhead menyambangi Bar si pemilik Kasino, seorang Taiwan yang notabene adalah kolega bisnis Yakuza. Udah kepalang tanggung, peduLi amat...Pokoknya an Eye for an Eye :p
Eh tanpa disangka-sangka Dia malah terlibat pertikaian dalam konflik orang lain pada malam itu. Seorang Yakuza Leader, Eguchi (Kato Masaya)telah dijebak dalam bar itu tanpa pengawalan dari bodyguardnya. Betapa terkejutnya Steelhead melihat wajah Eguchi, wajah yang sama ketika beberapa waktu yang lalu ia melihat Kekasih Hatinya telah bersama si Eguchi. Damn !! Napa mesti dia sehhh wakawkwkkwak :)

Lolos dari kepungan anak buah Bos Kasino, Eguchi langsung mengajak Steelhead ke rumahnya dan untuk kedua kalinya ia bertemu Kekasih Hatinya.
Apa mo dikata, ybs dah punya anak :p

Masihh Lanjut...
Tarr yahh gawe duLu, dapat Disposisi dari MasBos nehh

Film W. dan Sisi Buruk Presiden Bush

Inilah film yang secara terang-terangan menelanjangi kepribadian Presiden George W Bush (junior). Jika bukan di Amerika, film ini pasti akan memicu kontroversi. Bagaimana tidak. Sejak film dimulai hingga akhir, penonton disuguhi semua sisi buruk Mr W. Meski begitu, sutradaranya, Oliver Stone, menampik tuduhan bahwa filmnya mendiskreditkan mantan presiden ke 43 Amerika itu.

Patut dicatat, Oliver Stone adalah satu dari sedikit sutradara Amerika yang berani mengkritik proyek perang Presiden Bush. Ia mengatakan Bush telah mewariskan tiga perang hanya dalam tempo singkat, yakni perang Afganistan, perang Irak, dan perang melawan terorisme. Tragisnya, disemua perang itu, Amerika dibuat tak berkutik.


Film W. bercerita mengenai perjalanan karir Bush junior, mulai dari kuliah di Yale hingga menempati Gedung Putih. Sejatinya, tak ada yang istimewa dalam film ini, namun menjadi menarik karana penonton disuguhi latar belakang kenapa kebijakan Bush saat memimpin Amerika mirip cowboy disatu sisi dan amat bertendensi agama di sisi lain.


Bush adalah seorang pemabuk, dalam arti sebanar-benarnya tungkang mabuk. Nyaris tiap malam ia mabuk bersama teman-temannya di bar. Ia tak ragu untuk menaiki meja bar bersama perempuan jika tengah mabuk. Pernah suatu kali, saking mabuknya, mobilnya menabrak garasi rumahnya sendiri yang suaranya membangunkan bapaknya, Bush senior.

Ketergantungannya pada miniman membuat ia terpaksa menemui seorang pendeta Evangelis, Billy Graham, sahabat dan penasehat keagamaan keluarga Bush. Dari sang pendetalah ia mulai mendapatkan ceramah agama, yang membuat dia merasa lahir kembali. Belakangan ia merasa telah ditunjuk oleh Tuhan untuk memperbaiki Amerika dengan menjadi presiden. Sejak itulah Bush menjadi pengikut Evangelis yang fanatik, bahkan mungkin bisa disebut fundamentalis. Dunia dibuat tercengang ketika dia menyebut invasi Amerika ke Irak sebagai perang salib.

Perubahan drastis Mr W ini juga terlihat dalam setiap akhir rapat yang dipimpinnya di ruang Oval. Ia selalu menutup rapat dengan doa. Meski begitu, kelakuan cowboy-nya tetap tak bisa hilang. Ia makan dengan gaya seenaknya dan menaikkan sepatunya di atas meja saat memimpin rapat. Pokoknya gaya kampung halamannya, Texas, tak bisa hilang. Sang sutradara seperti ingin mengatakan kepada penonton bahwa tidaklah menghengrankan jika Amerika dimusihi dunia dan terlibat perang tak berkesudahan jika presidennya memipin dan mengambil keputusan dengan gaya cowboy.

Oh iya..Stone juga tak ketinggalan memasukkan kebisaan buruk Bush yang tak suka membaca laporan stafnya yang tebal-tebal, ia maunya membaca ringkasan saja.

Kehebatan Stone lainnya adalah semua bintang dalam film ini wajahnya mirip dengan tokoh yang diperankan. Josh Brolin, memerankan presiden Amerikan dengan amat bagus, mirip sekali dengan Bush. Pemeran Condoleezza Rice, yang dalam film ini masih menjabat penasihat keamanan, dan pemeran Menlu Colin Powell juga amat mirip.

Jika maksud Stone memperlihatkan bahwa Bush tak pantas jadi presiden Amerika, maka film ini bisa dikatakan sukses. Digambarkan bahwa Bush, ketika masih di Yale, tak suka dengan politik. Satu-satunya perhatiannya adalah baseball. Ketika ditanya oleh seniornya pada acara penerimaan perkumpulan mahasiswa atau lebih tepat disebut geng, Delta Kappa, apakah ia akan mengikuti ayahnya ke Washington, Bush mengatakan bahwa itu adalah hal terakhir yang akan dilakukannya.

Begitu tergila-gilanya dengan basball, Stone memulai dan mengakhir film ini dengan Bush berada di tengah lapangan yang siap nenangkap bola dengan suara latar yang meneriakkan nama Bush.

Meski sutradaranya orang beken dengan sejumlah film yang hebat-hebat seperti Platoon, FJK, Nixon, dan film tentang serangan ke menara kembar, namun film ini tak diproduksi oleh studio besar. Studio mapan di Hollywood, takut dengan konsekuensi politik yang ditimbulkan film yang diproduksi akhir tahun lalu ini.

Written by : Rahman Andi Mangussara

Slumdog dan Wajah Bopeng Pembangunan

Kemiskinan selalu menyisakan ruang gelap. Potret tentang kelamnya kemiskinan terurai dalam nasib hidup Jamal Malik, lelaki berperawakan agak kurus asal sebuah kawasan kumuh di Mumbai, India. Tokoh dalam film Slumdog Millionaire itu kemudian sampai pada suatu titik penting yang akan menentukan arah hidupnya: apakah ruang gelap itu akan menjadi sesuatu yang terang benderang ataukah akan tetap gelap.



Jamal Malik, tokoh yang diperankan aktor Dev Patel, mendapat kesempatan mengikuti sebuah acara kuis di televisi, Who Wants To Be A Millionaire, untuk memperebutkan hadiah 20 juta rupee. Jamal dapat menjawab satu per satu pertanyaan dalam kuis tersebut. Namun, saat selangkah lagi menuju hadiah utama, Jamal mendapat ujian berat. Karena berasal dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan, ia dituduh berbuat curang. Interogasi polisi yang disertai siksaan –adegan ini menjadi pembuka film—harus dihadapi Jamal.

Namun, Jamal berhasil meyakinkan bahwa ia memang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuis itu. Pada bagian cerita ini, sang sutradara film, Danny Boyle, menunjukkan kepiawaiannya. Melalui cerita kilas balik, tergambar jelas bahwa setiap pertanyaan yang diajukan pemandu acara kuis terkait erat dengan jalan hidup Jamal. Penonton pun kemudian mendapatkan rangkaian kisah hidup Jamal, sejak masa kecil di kawasan kumuh Mumbai hingga menjadi seorang office boy di sebuah kantor operator telepon. Selain tentang kepahitan hidup Jamal sebagai orang miskin, cerita ini juga disertai kisah tentang kesetiaan dalam persahabatan dan percintaan. Beberapa adegan lucu yang diselipkan, membuat alur film ini terasa segar.

Toh, pada akhirnya, meski berkutat pada cerita tentang jalan hidup Jamal, film ini sesungguhnya berbicara tentang problematika orang-orang miskin secara universal, serta wajah sebuah kota yang pincang. Intinya, untuk bisa bertahan di sebuah kota yang dipadati kaum urban dan dibalut persolan kesenjangan sosial, beban orang-orang miskin sangat berat. Bahkan acapkali mereka harus akrab dengan kekerasan. Mereka menjalani hidup tanpa kepastian masa depan. Kejahatan, eksploitasi anak-anak jalanan, prostitusi, gengster, hingga konflik sara, seperti tergambar dalam film ini, begitu akrab dengan orang-orang miskin.

Melalui visual yang kuat, film yang diangkat dari buku karya seorang diplomat India, Vikas Swarup, ini mampu menampilkan potret kemiskinan secara nyata. Visual tentang kawasan kumuh yang padat, WC kayu di atas sungai, kereta api yang padat hingga penumpang naik ke bagian atap, orang-orang mandi dan mencuci di sungai yang kotor, para pemulung di tempat pembuangan sampah, serta kehidupan anak-anak jalanan di kota yang semrawut, membuat cerita tentang kemiskinan terasa begitu kuat dan dekat. Apalagi untuk warga Jakarta, pemandangan seperti itu sesungguhnya tidak asing.

Pada bagian akhir film ini, penonton sengaja dibuat deg-degan oleh pertanyaan: Apakah Jamal akan berhasil memenangkan hadiah 20 juta rupee? Apakah Jamal akan berhasil mendapatkan cinta Latika (diperankan Freida Pinto), wanita pujaan yang pernah direbut sahabatnya dan diperistri seorang tokoh gengster? Menanti jawaban-jawaban itu dalam film ini memang menjadi suatu hiburan. Namun jiwa dalam film ini sesungguhnya terletak pada kisah panjang seorang Jamal dalam melawan kelamnya kemiskinan.

Film Slumdog Millionaire telah meraih empat penghargaan di ajang Golden Globe Award. Film yang mulai tayang di Indonesia pada Februari 2009 ini diprediksi masih akan berjaya setelah memborong sepuluh nominasi Piala Oscar, termasuk untuk kategori film terbaik dan sutradara terbaik.

Written by : Anton Bahtiar Rifa’i